Selasa, 07 April 2009

Hizbullah Kecam Sikap PBB

Rabu, 08 April 2009 Sample ImageHizbullah Lebanon mengecam sikap Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyerahkan jabatan ketua Komite Populasi dan Pertumbuhan PBB kepada Rezim Zionis Israel. Sebagaimana dilansir IRNA dari Beirut, Hizbullah hari Selasa (07/4) mengeluarkan pernyataan kecaman atas penyerahan jabatan ketua Komite Populasi dan Pertumbuhan PBB kepada Rezim Zionis Israel.

Dalam pernyataan itu Hizbullah menyebut langkah tersebut sebagai persekongkolan dengan penjahat Israel dan ilegal. Karena keberadaan Israel selama ini berlandaskan pembantaian dan penghancuran rumah-rumah penduduk yang bertentangan dengan segala pertumbuhan. Hizbullah menilai langkah PBB ini merupakan usaha untuk menutup-nutupi kejahatan berulang Rezim Zionis Israel dan membebaskan mereka dari kejahatan yang dilakukannya.

Minggu, 05 April 2009

MEMRI, Mesin Propaganda Israel ?????!!!!!!


MEMRI (The Middle East Media Research Institute) adalah lembaga yang kesehariannya melakukan alih bahasa terjemahan Inggris semua film dan media Arab, Iran dan Turki. Lembaga ini juga mempersiapkan analisa mengenai budaya, politik dan agama Timur Tengah. Setiap harinya, berita yang dibuat oleh MEMRI dikirimkan ke media-media Amerika dan Eropa. Satu hal yang patut diperhatikan adalah semua ini dilakukan dengan gratis. Itulah mengapa para wartawan, pimpinan redaksi dan analis menyebut lembaga ini sebagai anugerah ilahi.


Namun para pakar melihat MEMRI sejatinya sebagai mesin propaganda sangat berbahaya dan sangat kompleks yang bertanggung jawab menyebarkan kebencian dan informasi salah ke seluruh dunia. Sebagaimana ditulis oleh majalah Mouood (majalah yang khusus membicarakan masalah Imam Mahdi af) mengutip surat kabar In Focus, peneliti masalah-masalah Palestina dan Israel Profesor Norman G. Finkelstein kepada In Focus mengatakan, “MEMRI menggunakan teknik propaganda yang dilakukan oleh NAZI. Caranya, mereka mengutip informasi yang diinginkannya dari teks dengan tujuan menciderai kepribadian atau politik seseorang yang tidak menyukai mereka.”

Kita dapat mengambil contoh Profesor Halim Barakat, penulis roman dan peneliti di Universitas Georgetown dalam kasus ini. Ia pada tahun 2002 menulis makalah dengan tema Israel yang dimuat dalam koran Al-Hayat, namun ia menurutnya, MEMRI mengambil beberapa hal khusus yang kemudian dipublikasikannya. Barakat menyatakan, “Saya tahu betul bagaimana membedakan Yahudisme dan Zionisme, namun mereka menyelewengkan artikela saya. Mereka hanya mengutip beberapa hal khusus dan berusaha mencitrakannya sebagai pandangan anti Yahudi.”

Selang beberapa waktu Daniel Pipes, analis anti Islam menerjemahkan artikel tersebut dan memanfaatkannya untuk menciderai kredibilitas Universitas Georgetown.

Finkelstein, kritikus kebijakan Israel dan lobi-lobi Amerika pro Israel juga punya masalah dengan MEMRI. Kejadian itu bermula saat ia diwawancarai oleh televisi Lebanon tahun 2006. Tema wawancara waktu itu mengenai “Holocaust dan Bagaimana Israel Memanfaatkannya untuk Membungkam Para Pengritiknya”.

Setelah wawancara tersebut Finkelstein di situsnya menulis, “Baru-baru ini MEMRI mempublikasikan wawancara saya dengan televisi Lebanon mengenai holocaust. Publikasi yang dilakukan MEMRI sedemikian rupa sehingga mencerminkan bahwa saya mengingkari holocaust.”

Tentu saja Finkelstein tidak mungkin dikategorikan dalam orang-orang yang mengingkari holocaust. Karena ayah dan ibunya termasuk orang-orang yang selamat dari peristiwa itu. Dan biasanya dalam membicarakan holocaust ia banyak menukil dari kedua orang tuanya. Namun MEMRI dengan mengedit sebagian besar wawancara tersebut dan menunjukkan pengingkarannya. Dengan menambahkan sebagian pandangan para pengelola MEMRI, wawancara itu tampak menganggap sedikit jumlah orang Yahudi dalam peristiwa holocaust dan bukannya membicarakan masalah Palestina-Israel.

Kecenderungan kuat MEMRI untuk melindungi Israel muncul dari orang-orang dan para simpatisan yang menjamin dan mengelola pembiayaan aktivitas internasionalnya. Lembaga ini dibangun tahun 1998 oleh Yigal Carmon, mantan Colonel Departemen Peperangan Israel Bidang Inteligen yang sebelumnya menjadi komandan sipil Tepi Barat Sungai Jordan dan Meyrav Wurmser, seorang Israel keturunan dan tokoh konservatif garis keras sayap kanan Amerika. Meyrav adalah isteri David Wurmser yang sempat menjadi peneliti di AEI (The American Enterprise Institute For Public Research) yang kemudian menjabat di Departemen Dalam Negeri Amerika di masa John Bolton. Mereka punya kerjasama erat dengan tokoh-tokoh seperti Douglas J. Feith, Elliott Abrams, Richard Perle dan para ideolog sayap kanan yang memproduksi cerita fiktif peran Saddam Hussein dalam peristiwa 11 September.

MEMRI punya sejumlah kantor di Baitul Maqdis, Berlin, London, Washington dan Tokyo. Pada tahun 2006 Carmon mengklaim lembaganya memiliki kantor cabang di Irak.

Lembaga ini menerjemahkan film-film dan berbagai tulisan media ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Ibrani, Italia, Perancis, Spanyol dan Jepang.

Pajak yang dikeluarkan MEMRI tahun 2004 menunjukkan penanaman modal dua hingga tiga juta dolar Amerika di lembaga ini yang mayoritasnya ditanggung oleh para donatur dan lembaga-lembaga konservatif. Sementara mereka yang meneliti lembaga ini menyebut angka yang lebih besar dari yang telah disebutkan. Selain Carmon, banyak juga pegawai MEMRI yang berasal dari para ahli yang dahulunya bekerja di Badan Inteligen Israel. Sangat mungkin lembaga ini punya hubungan erat dengan Badan Dinas Rahasia Israel saat ini.

Berdasarkan artikel yang dipublikasikan koran Haaretz tahun 2005, agen-agen Israel menciptakan berbagai isu buatan di media-media Arab kemudian diterjemahkan oleh MEMRI dan diserahkan kepada para wartawan kecil Israel. Oleh karena itu, pertanyaannya adalah berapa persen dari aktivitas MEMRI yang sejatinya menjadi perpanjangan tangan Departemen Peperangan Israel?

Pertanyaan Haaretz ini sangat menggelitik Profesor John Cole yang membuatnya menulis seperti demikian, “Seberapa tingkat pemahaman kita mengenai “terorisme Hizbullah” dan “sumber-sumber berita Arab” yang kenyataannya produksi pabrik cerita Tel Aviv?

Wartawan dan editor Middle East tahun 2000-2007 Guardian Brian Whitaker menilai MEMRI sebagai mesir propaganda.

Wali Kota London Ken Livingstone menuduh MEMRI melakukan pemutarbalikan fakta transparan dan mantan Director of Intelligence Program For The United States National Security Council (NSC) Vincent Cannistraro menulis, “Metode yang mereka pakai sangat selektif dan aktivitas mereka mempropagandakan politik sayap kanan ekstri Likud.”

Sesuai dengan gaya khasnya yang blak-blakan, Norman G. Finkelstein menulis, “MEMRI merupakan tulang punggung militer Israel di bidang propaganda. MEMRI menjadi media utama sumber berita dunia Arab. MEMRI begitu dipercaya sama seperti informasi Julius Streicher, politikus NAZI yang begitu dipercaya dunia Yahudi.”

Profesor John Cole dalam sebuah email yang dikirimkan kepada surat kabar In Focus menyebut MEMRI sebagai organisasi propaganda sayap kanan-zionis yang kegiatannya mempropagandakan pemikiran mereka lewat pilihan mereka dalam menerjemahkan.

Sejatinya MEMRI mencitrakan dunia Arab punya keinginan buruk dan tolol yang hampir keseluruhannya dibangun dari fundamentalisme fanatik. Setiap peristiwa yang mampu menunjukkan rakyat Timur Tengah sebagai orang gila, pemicu kebencian dan bengis harus diterjemahkan dan dipublikasikan. Sementara setiap kejadian yang mencitrakan mereka jenius, potensial dan patut diacungi jempol harus ditutup-tutupi.

MEMRI mengklaim meliput seluruh kalangan reformis Arab, namun mereka yang benar-benar mengikuti aktivitas lembaga ini mengetahui betapa MEMRI tidak pernah memasukkan nama-nama para tokoh yang menonjolkan Islam dan budaya Arab menjadi sangat menarik. Begitu juga MEMRI tidak akan meliput berbagai masalah terkait kesulitan rakyat Palestina, para penentang Israel, orang-orang muslim moderat, para pemeluk Kristen di negara-negara Arab atau gerakan-gerakan yang menentang tembok pemisah di Palestina pendudukan.

Satu pertanyaan menarik diajukan koran In focus kepada Yigal Carmo, “Mengapa MEMRI tidak banyak memuat berita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di Israel? Carmo menjawab, “Sekitar 80 persen berita-berita ini ada dalam bahasa Inggris.” Ditanya lebih lanjut, “Lalu mengapa dalam beberapa pekan anda tidak membeli sejumlah berita-berita tersebut dan tidak mempublikasikannya, sehingga ada gambaran yang lebih adil mengenai Timur Tengah? Carmon menjawab, “Kemungkinan hal ini ilegal.”

Masih dari wawancara tersebut, ditanyakan pula mengenai copy right. Mengapa MEMRI menjadikan seluruh berita yang diterjemahkan menjadi miliknya, padahal mayoritasnya ditulis oleh para penulis Arab? Carmon menjawab, “Jelas itu milik kami dan memiliki copy right. Ketika kami menerjemahkan sebuah berita dari bahasa lain, maka karya terjemahan itu menjadi milik kami. Karena kami yang melakukannya.”

Demi menemukan keyakinan terkait apa yang disampaikan Yigal Carmon, koran In focus menelusuri kebenaran masalah ini lewat pandangan New York Times. Seorang pegawai bidang copy right New York Times yang tidak ingin disebut namanya mengatakan, “Bila kalian menerjemahkan sebuah karya dari New York Times, berita itu masih menjadi hak milik kami. Karena kami yang memproduksinya.”

Ketika dalam menerjemahkan sebuah kalimat bahkan sebuah kata seperti perang dan perdamaian, di sini masalah menjadi pelik dan poin-poin sekecil apa pun menjadi penting.

Pertanyaannya, apakah kita bisa mempercayai seorang penerjemah MEMRI?

Berdasarkan pendapat para analis, selama tidak dimulai penerjemahan berita-berita berbahasa Ibrani mengenai penyiksaan terhadap tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, MEMRI tidak akan meliput berita Timur Tengah secara apa adanya.

Profesor Norman G. Finkelstein berkata, “Saya tidak percaya. Lebih baik sejak awal kita berasumsi bahwa setiap berita Timur Tengah yang diterjemahkan MEMRI tidak dapat dipercaya.”[islammuhammadi/sl]

Saleh Lapadi: Wartawan IRIB, Pengamat Timur Tengah

Silahkan buka situs MEMRI: http://www.memri.org

Rabu, 01 April 2009

Hari Republik Islam

Hari ini, tanggal 12 Farwardin 1388 Hijri Syamsiyah, tercapainya kesepakatan rakyat Iran yang memberikan suaranya melalui satu referandum untuk mendirinya Republik Islam. Tepat 30 tahun lalu, 45 hari setelah pecahnya Revolusi Islam di Iran dibawah kepemimpinan Imam Khomeini qs, referandum menghasilkan kesepakatan (96%) rakyat Iran mendirikan negara Republik Islam di Iran. Hari terjadinya referandum rakyat yang menyepakati berdirinya Republik Islam di Iran inilah diperingati sebagai Hari Republik Islam di Iran.

Berdirinya Republik Islam di Iran dengan tiga dasar pokok: Tauhid (keEsaan Allah), Wilayah (Kepemimpinan) dan Rakyat. Suara Rakyat ebagai sisi pemerimaan muslimin pertama kali terjadi di dunia secara umum dan perjalanan politik Islam secara khusus sehingga terlaksananya teori kenegaraan dengan dasar Islam dan kemudian menjalankan hukum Islam dengan seksama.

Tidak dapat dibayangkan, setelah 30 tahun berdirinya Republik Islam di Iran, dengan 8 tahun perang, Iran telah menjadi negara yang maju dari semua aspek kehidupannya melebihi negara negara yang lebih dahulu merdeka. Aspek Militer, ekonomi, politik dan budaya menjadi tumpuan berjalannya negara ini sehingga menjadi poros kekuatan islam dalam menghadapi kekuatan Adi Kuasa penjajah dunia. Di Timur Tengah, Iran telah menjadi kunci penyelesaian setiap masalah regional terutama dalam konflik yang sedang berjalan sekarang.

Konflik Iraq dan Afganistan, Libanon dan Palestina, semua tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Iran Islami. Sebaliknya, negara negara Eropa dan Amerika harus memperhitungkan keberadaan Iran di setiap langkah strateginya di regional dan internasional. Hingga kini, Republik Islam Iran terus mengabdikan dirinya untuk mempertahankan Islam di dunia. Republik Islam yang berdiri 30 tahun lalu telah menjadi poros Islam dalam kancah politik internasional.

"Saya mengucapkan selamat bagi rakyat Iran yang sepanjang sejarah Syahinsyah telah menganggap ringan tekanan penjajahan terhadap dirinya, padaha apa yang telah mereka mereka (Syah) lakukan terhadap mereka. 12 Farwardin adalah hari pertama pemerinthan Allah, merupakan aspek besar dalam Islam dan negara kita. Rakyat perlu mengangkatnya sebagai hari raya besar dalam kehidupannya. Hari jatuhnya kerajaan 2500, pemerintahan setan yang digantikan pemerintahan mustathafin (orang orang tertindas) yaitu berdirinya pemerintahan Tuhan...cuplikan pidato Imam Khomeini pada 12 Farardin.

Baru Dilantik, Netanyahu Ancam Iran

Baru saja dilantik menjadi perdana menteri Rezim Zionis Israel, Benjamin Netanyahu sudah mengeluarkan penyataan miring terkait Republik Islam Iran. Netanyahu kali ini seperti pejabat Israel lainnya menilai program nuklir Iran sebagai ancaman. Saat dilantik, Netanyahu menyatakan dunia Arab berada dalam bahaya dengan adanya program nuklir Iran. Ia juga secara ekstrim membicarakan Republik Islam Iran. Sebelumnya, mantan perdana menteri Israel, Ehud Olmert dengan klaim palsunya berusaha menyebarkan Iranphobia dengan menyelewengkan kemajuan Iran di bidang sains terutama teknologi nuklir.

Kebijakan ini dilancarkan Tel Aviv di saat rezim ini mengalami kekalahan di Jalur Gaza. Aksi brutal 22 hari Israel ke Gaza meski mengakibatkan tragedi kemanusiaan, namun rezim ini gagal melaksanakan ambisinya dalam perang tersebut. Kekalahan ini kembali membuktikan bahwa legenda tak terkalahkan Israel telah pudar. Sebelumnya Israel juga mengalami kekalahan memalukan dalam perang musim panas 2006 di Lebanon. Menurut para mengamat, Netanyahu yang menang tipis, kini berupaya menutupi kelemahan Israel dengan sikap ekstrimnya.

Kondisi Israel saat ini masih sangat rentan meski Netanyahu berhasil membentuk kabinet koalisi. Rupanya para pejabat Tel Aviv menyadari hal ini sehingga mereka berusaha memperkokoh posisinya dengan melontarkan berbagai isu termasuk klaim palsu terhadap program nuklir Iran. Pernyataan Netanyahu terhadap Iran tidak dapat dipisahkan dari transformasi kawasan. Menurut laporan Koran Daily Telegraph, cetakan London, pejabat Israel khawatir terhadap perubahan mendadak akibat kebijakan Presiden AS, Barack Obama terhadap Iran.

Terlepas dari masalah tersebut, Israel yang memiliki lebih dari 200 hulu ledak nuklir dan tetap melanjutkan kebijakan brutalnya terhadap bangsa Palestina merupakan ancaman serius bagi dunia. Oleh karena itu, pejabat Tel Aviv harus memberikan pertanggung jawaban terhadap masyarakat internasional dan regional.

Arab Harus Ditembak Kepalanya! !!!!! What's wrong????

"Arab hanya mencari harta, sex dan alkohol, tidak mungkin percaya kepadanya. Mereka bodoh, tidak memberikan apapun bagi kemanusiaan". ungkapan diskriminasi (SARA) ini muncul dari seorang mahasiswa di fakultas Ilmu Politik di Universitas Haifa dalam satu diskusi biro hubungan Arab dan masalah Palestina. Muncul beberapa ungkapan penuh dengan kecamanan dan dikriminasi (SARA) didalamnya.

Portal intenet Zionis "Naknak"; Mahasiswa yang menjadi anggota diskusi "biro hubungan Arab dan masalah Palestina" baru mendaftarkan diri di universitas tahun ini untuk mengikuti kuliah Dr David Baqai. Dia mengutarakan kutukan dan hinaan kepada Arab dan mendukung pembunuhan mereka (Arab) dan mensifati kepribadian Arab sebagai penjahat. Mahasiswa ini juga menghina orang Palestina di depan media massa dan eletronika. Informasi dari beberapa mahasiswa yang hadir dalam diskusi itu, didalam diskusi juga dikatakan:"Arab harus dihapuskan, acungkan pistol ke kepala mereka, dan tembak. Semua bangunan milik Arab dan Palestina harus dihancurkan". Hadir juga dalam diskuis ini penulis buku "Diskusi Islam Fanatik, tentara Zionis yang menayangkan film orang Palestina yang mereka cari seraya mengejeknya. Kemudian membagikan gambar tersebut kepada keluarganya sehingga mengetahui banwa anak anak mereka adalah "pengecut". (begitu diistilahkan Zionis). Dalam kesempatan lain diutarakan bahwa semua kesalahan harus ditangung oleh Arab.

Berdasarkan "Naknak", ada seorang pelajar yang berusaha untuk memprotes diskusi ini, dengan membawa bukti sejarah tentang ulama Arab dibidang Matematik dan sejumlah ulama Arab terkenal, maka mereka menjawab:"Anda tidak tahu apa yang anda katakan, Arab tidak memberikan suatu apapun, mereka itu bodoh, tidak memberikan suatu apapun untuk kemanusiaan. Telah diutarakan berbagai pengetahuan yang ditemukan ulama Arab, Arab pembohong besar dan jangan percaya sejarah mereka".

Ketua Pelajar Arab di Universitas berkenaan, Fadi Abu Yunis, telah berusaha untuk memprotes diskuis yang membawa ungkapan diskriminasi tersebut, tapi mereka mencegah dan tidak memberi kesempatan. Dikatakan Fadi kepada Naknak bahwa penasehat universitas dibidang ini, Dr As'ad Ghanim telah mengirim surat kepada forum diskusi ini untuk diminta pertanggung jawabannya. Beliau juga menambahkan bahwa hal ini telah melanggar aturan Universitas.

Medvedev-Obama Bertemu, Singgung Program Nuklir Iran



Presiden Rusia, Dmitry Medvedev dan rekan sejawatnya dari AS, Barack Obama telah mengadakan pertemuan menjelang pembukaan pertemuan para pemimpin G-20 di London, Inggris. Sebagaimana dilansir AFP kemarin (Rabu, 1/4) dari London, dalam pertemuan itu, kedua kepala negara sepakat untuk membicarakan masalah sistem pertahanan rudal. Medvedev dan Obama dalam pernyataan bersama mengumumkan kesepakatan kedua pihak untuk membahas masalah kerjasama global kedua negara soal sistem pertahanan rudal. Dalam pernyataan itu juga disebutkan bahwa kedua negara juga sepakat untuk memulai perundingan menyangkut pengurangan gudang senjata nuklir.

Dalam pertemuannya itu, kedua pemimpin meminta Republik Islam Iran untuk bersikap kooperatif dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan membuktikan tujuan damai program nuklirnya. IAEA yang mengawasi program nuklir Iran berulang kali menyatakan tidak ditemukannya penyimpangan dalam program nuklir mereka.

Ganti Pemerintah, Kebijakan Israel Masih Tak Berubah



Benjamin Netanyahu, ketua Partai Likud kemarin (Selasa 31/3) resmi dilantik sebagai perdana menteri Rezim Zionis Israel setelah mendapat mosi percaya dari parlemen rezim ini (Knesset). Kini setelah menjabat PM Israel, Netanyahu ternyata melanjutkan kebijakan pendahulunya, Ehud Olmert terkait pembangunan distrik Zionis. Kebijakan ini malah berjalan lebih cepat. Sebelumnya Netanyahu menyatakan, pembangunan permukiman Zionis adalah kebijakan pasti Israel. Apalagi setelah Netanyahu menandatangai kesepakatan rahasia dengan Pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman maka ia lebih berani untuk menjanjikan pelanjutan kebijakan ini.

Dalam kondisi seperti ini, Wakil Komite Nasional untuk pengungsi Palestina, Umar Assaf mengatakan, rencana perluasan permukiman Zionis adalah kebijakan politik yang disepakati seluruh partai Israel. Tak diragukan lagi pembangunan permukiman Zionis adalah strategi utama Tel Aviv untuk menjajah Palestina. Partai Buruh adalah pencetus ide pembangunan permukiman Zionis di Tepi Barat, Baitul Maqdis timur, Jalur Gaza dan Dataran Tinggi Golan. Selama 40 tahun Israel telah membangun ratusan permukiman Zionis di wilayah Palestina. Selama empat dekade Israel telah membangun 200 distrik Zionis di Tepi Barat. Jumlah tersebut juga tercatat di wilayah Baitul Maqdis timur.

Dengan menerapkan kebijakan tersebut Israel secara tidak langsung melanjutkan penjajahannya terhadap bangsa Palestina. Karena hal ini mengakibatkan warga Palestina akan terusir dengan paksa dari negara mereka. Mengingat hal ini merupakan kebijakan pasti Rezim Zionis, maka di saat Partai Likud berkuasa maka dipastikan mereka juga seperti pemerintahan sebelumny. Ariel Saron, pada tahun 2003 mencetuskan pembangunan tembok pemisah di sepanjang perbatasan Palestina dengan alasan untuk menjaga keamanan warga Zionis dari ancaman warga Palestina.

Kebijakan Israel ini tidak hanya berdampak buruk bagi warga Palestina, namun juga memaksa mereka meninggalkan rumah dan ladang pertaniannya. Warga Palestina ini hidupnya menjadi terlunta-lunta di kamp pengungsian di berbagai negara. Israel tak pernah memperhatikan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) yang melarang pembangunan permukiman Zionis di atas tanah bangsa Palestina. Pernyataan Netanyahu yang bertekad meneruskan kebijakan ilegal kian memperjelas eksistensi penjajahan Rezim Zionis Israel. Mengingat sikap perdana menteri baru Israel ini maka proses perjanjian damai antara Israel dan pejuang Palestina sepertinya sulit diwujudkan dan meletusnya perang baru juga tidak dapat dihindari. Dari sini Konferensi Doha yang baru saja digelar seharusnya mengambil sikap tegas terhadap nasib bangsa Palestina.

Namun bangsa Arab sepertinya masih mempertimbangkan kepentingan mereka jika mendukung penuh terhadap bangsa tertindas Palestina. Seruan berbagai pihak terhadap negara Arab untuk berperan aktif dalam proses rekonstruksi Jalur Gaza sepertinya tidak mendapat tanggapan serius dari negara Arab sendiri. Kini yang masuk justru dari negara Eropa seperti Perancis yang melopori upaya pembukaan Jalur Gaza dan melepaskan wilayah ini dari boikot Israel.